Beginilah kisah kepulangan gadis 23 tahun ke kampung halaman..
Tepat 26 April 2016 resmi sudah gw menjadi seorang sarjana Ilmu Komunikasi selama 23 hari. Yey! dan gw pun ditawari untuk pulang kampung ke Ambon. Fyi, sudah 6 tahun lamanya gw gak pernah pulang ke Ambon. Terakhir Desember 2010 saat Perayaan Natal Keluarga Besar dari bokap. Waaw lama banget kan?!
Penawaran ini datang dari kak Sera supaya gw sekalian mengantar oma Sien pulang (padahal ada Ana yang juga sudah datang ke Jakarta). Kesempatan ini gw ambil mengingat ada tawaran kedua yaitu jalan-jalan ke Ora Beach, Maluku Tengah. Ya meskipun bukan pergi bersama keluarga melainkan dengan teman-teman kantor kak Sera. Padahal Desember 2015 dia sudah pergi ke sana dengan sepupu-sepupu (jangan tanya kenapa gw gak ikut, menyedihkan).
Semua di setting supaya tidak ada yang tahu keberangkatan gw ke Ambon hingga di Bandara semua terbongkar karena saudara-saudara melihat ransel traveling besar yang tidak dimasukan ke bagasi. Ya gak masalah juga sih kalau mereka tahunya pas udah di Bandara hahaha. Penerbangan ke Ambon memakan waktu lebih kurang 3,5 jam sudah ditambah transit di Makassar. Ada kisah menyebalkan yang terjadi ketika di Makassar dan membuat penerbangan harus menunggu gw. Jadi gini, saat berangkat dari Jakarta tongsis yang gw taruh di ransel tidak bermasalah ketika x-ray tapi waktu di Makassar kebalikannya. Gw harus urus tongsis masuk bagasi sedangkan penerbangan 20 menit lagi akan berangkat. Pusing gak?? Akhirnya puji Tuhan bangeeet teman kantor Ana yang saat itu ikut pulang ke Ambon rela yang urus semuanya. Kita langsung lari ke pesawat dengan tergesa-gesa dibantu dengan staf bandara yang ganteng hahaha.
Berangkat dari Jakarta pukul 09.00 WIB dan tiba pukul 18.00 WIT nah hitung sendiri deh ya berapa jam perjalanan udara dan darat. Tak banyak yang berubah dari Ambon tapi perubahan paling nyata adalah Jembatan Merah Putih. Dulu kalau mau ke kota dari bandara harus menyebrang dengan feri tapi sekarang sudah dibangun jembatan. Saat tiba di Tanah Tinggi badan langsung manja pengen cepat-cepat tidur bahkan gak makan malam lagi. Mandi dan langsung meluk bantal. Selama di Ambon gw tidur dengan oma Sien. Gak pake kipas, gak pake AC jadi bisa dibayangkan adem-adem panas gimana gitu ya ha-ha-ha. You all have to know there's something happened in the midnight with Oma Sien while I was dreaming beautifully and it shocked me but not know, next part ya hehe.
That's my day one in Ambon. See you on next part!
Penawaran ini datang dari kak Sera supaya gw sekalian mengantar oma Sien pulang (padahal ada Ana yang juga sudah datang ke Jakarta). Kesempatan ini gw ambil mengingat ada tawaran kedua yaitu jalan-jalan ke Ora Beach, Maluku Tengah. Ya meskipun bukan pergi bersama keluarga melainkan dengan teman-teman kantor kak Sera. Padahal Desember 2015 dia sudah pergi ke sana dengan sepupu-sepupu (jangan tanya kenapa gw gak ikut, menyedihkan).
Semua di setting supaya tidak ada yang tahu keberangkatan gw ke Ambon hingga di Bandara semua terbongkar karena saudara-saudara melihat ransel traveling besar yang tidak dimasukan ke bagasi. Ya gak masalah juga sih kalau mereka tahunya pas udah di Bandara hahaha. Penerbangan ke Ambon memakan waktu lebih kurang 3,5 jam sudah ditambah transit di Makassar. Ada kisah menyebalkan yang terjadi ketika di Makassar dan membuat penerbangan harus menunggu gw. Jadi gini, saat berangkat dari Jakarta tongsis yang gw taruh di ransel tidak bermasalah ketika x-ray tapi waktu di Makassar kebalikannya. Gw harus urus tongsis masuk bagasi sedangkan penerbangan 20 menit lagi akan berangkat. Pusing gak?? Akhirnya puji Tuhan bangeeet teman kantor Ana yang saat itu ikut pulang ke Ambon rela yang urus semuanya. Kita langsung lari ke pesawat dengan tergesa-gesa dibantu dengan staf bandara yang ganteng hahaha.
Berangkat dari Jakarta pukul 09.00 WIB dan tiba pukul 18.00 WIT nah hitung sendiri deh ya berapa jam perjalanan udara dan darat. Tak banyak yang berubah dari Ambon tapi perubahan paling nyata adalah Jembatan Merah Putih. Dulu kalau mau ke kota dari bandara harus menyebrang dengan feri tapi sekarang sudah dibangun jembatan. Saat tiba di Tanah Tinggi badan langsung manja pengen cepat-cepat tidur bahkan gak makan malam lagi. Mandi dan langsung meluk bantal. Selama di Ambon gw tidur dengan oma Sien. Gak pake kipas, gak pake AC jadi bisa dibayangkan adem-adem panas gimana gitu ya ha-ha-ha. You all have to know there's something happened in the midnight with Oma Sien while I was dreaming beautifully and it shocked me but not know, next part ya hehe.
That's my day one in Ambon. See you on next part!
No comments:
Post a Comment