Hari ini memasuki part dua gw bercerita. Liburan kemarin dihabiskan selama dua minggu. Berhubung gw pulang kampung bukan masa libur Natal dan Tahun Baru jadi memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena Ana, kak Christie, Carol punya aktivitas masing-masing yaitu kerja dan sekolah. Gw pun tinggal berdua saja dengan oma di rumah sambil nonton tv, cuci pakaian, mandi, makan siang, tidur, dan diulangi kembali. Oh iya selain itu gw juga menghabiskan waktu untuk merapihkan silsilah keluarga dari bokap. Wedeeew.
Fyi, di Ambon sinyal terbaik hanya dimiliki telkomsel. Selain provider itu jangan berharap bisa komunikasi dengan lancar tanpa gangguan. Tujuan lain gw pulang kampung adalah ya itu tadi mencari keluarga (membuat data keluarga yang belum lengkap). Tepat di hari Sabtu, 29 April - 30 April gw dan Carol pergi ke negeri Porto, kampung asalnya keluarga Sahertian. Kita berangkat naik kapal cepat. Seharusnya gw pergi berdua dengan sepupu perempuan yang lebih tua dari gw dan sudah berkeluarga tapiiii di H-1 lost contact entah kemana. Akhirnya setelah berpikir tak terlalu panjang dan memohon pada Ana, tadaaaa Carol yang menggantikan sepupu tadi. Carol adalah anak dari adiknya bokap dan dia masih berusia sekitar 14-15 tahun. Bagi gw pergi dengan siapa pun gak jadi masalah yang penting gw harus segera menginjakan kaki di negeri Porto haha. Ya iyalah masa 3x pulang ke Ambon gak pernah ke negeri asal.
Kita naik kapal cepat jam 9 pagi dari pelabuhan Tulehu. Keberangkatan kita dibantu oleh kak Etus Noya (anak dari sepupu bokap). Siapa sih yang gak suka dipilihkan tempat di VIP? seharusnya sih senang ya tapi big NO buat gw. Waktu kapal meninggalkan pelabuhan dan mulai berguncang gw masih santai tapi 20 menit berlalu gw mulai gak tahan. Pusing, mual, keringat dingin. Akhirnya gw cepat-cepat jalan ke toilet tapi dengan agak sedikit oleng. Tiba di toilet gw paksain muntah, taraaaa Sharo mabok laut untuk pertama kalinya! Kembali ke tempat duduk gw cuma gosok-gosok aroma therapy. Perjalanan memakan waktu 90 menit and it means gw harus tahan-tahan dan hanya bisa dibawa tidur. Carol dari awal perjalanan sudah tutup muka dengan topi dan tidur. Bodoh ya Shar dulu waktu pelajaran Fisika/Geografinya, huffff. Kapal bagian atas tuh guncangannya lebih terasa daripada di bawah. Karena apa? nah googling deh ya biar pinter.
Setibanya di Porto, om Mon sudah siap menyambut kita dengan motor dan ojek tambahan. Ternyata jarak dari pelabuhan ke rumah om Mon sangat dekat bahkan menurut gw sebenarnya kita bisa jalan kaki. Namun, mungkin om Mon berpikir kita membawa banyak barang dan inilah cerita gw di negeri asal.
Saat tiba di rumah om Mon hanya ada tante Mada (istri om Mon). Kami langsung disuguhkan teh hangat dan kue yang yang terbuat dari nasi. Beruntung sekali abis bermabuk ria dapat teh hangat yang bisa menetralkan rasa tidak enak badan. Kami pun mengobrol banyak hal khususnya tentang anak-anak tante Mada haha. Selesai itu, kami pergi berjalan di sepanjang pesisir pantai belakang rumah, pulangnya makan siang ikan batu-batu dengan sayur (au dah lupa sayur apa). Sumpah! enak ikan batu-batunya. Gurih dan rasa tambah hehe. Ikan batu-batu biasa disebut juga dengan ikan kerapu tapi ikan kerapu di Depok/ Jakarta gak enak. Gw pun sampai nambah loh. Yah semua ikan yang gw makan memang selalu nambah karena emang favorit banget deh sama ikan. Jadi gw asli orang Ambon kan? hahaha.
After lunchie lanjut lagi naik ke daerah Bogor berkenalan dengan saudara-saudara yang lain. Jaraknya tidak terlalu jauh, bisa dengan berjalan kaki namun disarankan untuk memakai payung karena cuaca dan udaranya cukup panas. Bisa gosyong ya sis. Lanjut lagi jalan-jalan ke Tihuwa tempat bacuci pakaian ibu-ibu. Hari itu gw di-full service haha. Jalan-jalan juga ke Benteng Duurstede di Saparua dan Booi tempat tinggal sepupu bokap dengan mengendarai motor.
Singkat cerita malam pun tiba. Semua tertidur pulas. Sejujurnya ku tak bisa bangun subuh namun dikarenakan masih harus mampir ke rumah saudara satu lagi yang dimana kelupaan maka pagi-pagi sekali harus mengunjunginya sebelum naik kapal pertama.
At the end of my story. I just wanna say thank you (again) to my om Mon, tante Mada, tante Da, tante Lin and all of my family member in Haria, Porto, Bogor, Booi, etc. I was very happy.
Kita naik kapal cepat jam 9 pagi dari pelabuhan Tulehu. Keberangkatan kita dibantu oleh kak Etus Noya (anak dari sepupu bokap). Siapa sih yang gak suka dipilihkan tempat di VIP? seharusnya sih senang ya tapi big NO buat gw. Waktu kapal meninggalkan pelabuhan dan mulai berguncang gw masih santai tapi 20 menit berlalu gw mulai gak tahan. Pusing, mual, keringat dingin. Akhirnya gw cepat-cepat jalan ke toilet tapi dengan agak sedikit oleng. Tiba di toilet gw paksain muntah, taraaaa Sharo mabok laut untuk pertama kalinya! Kembali ke tempat duduk gw cuma gosok-gosok aroma therapy. Perjalanan memakan waktu 90 menit and it means gw harus tahan-tahan dan hanya bisa dibawa tidur. Carol dari awal perjalanan sudah tutup muka dengan topi dan tidur. Bodoh ya Shar dulu waktu pelajaran Fisika/Geografinya, huffff. Kapal bagian atas tuh guncangannya lebih terasa daripada di bawah. Karena apa? nah googling deh ya biar pinter.
Setibanya di Porto, om Mon sudah siap menyambut kita dengan motor dan ojek tambahan. Ternyata jarak dari pelabuhan ke rumah om Mon sangat dekat bahkan menurut gw sebenarnya kita bisa jalan kaki. Namun, mungkin om Mon berpikir kita membawa banyak barang dan inilah cerita gw di negeri asal.
Saat tiba di rumah om Mon hanya ada tante Mada (istri om Mon). Kami langsung disuguhkan teh hangat dan kue yang yang terbuat dari nasi. Beruntung sekali abis bermabuk ria dapat teh hangat yang bisa menetralkan rasa tidak enak badan. Kami pun mengobrol banyak hal khususnya tentang anak-anak tante Mada haha. Selesai itu, kami pergi berjalan di sepanjang pesisir pantai belakang rumah, pulangnya makan siang ikan batu-batu dengan sayur (au dah lupa sayur apa). Sumpah! enak ikan batu-batunya. Gurih dan rasa tambah hehe. Ikan batu-batu biasa disebut juga dengan ikan kerapu tapi ikan kerapu di Depok/ Jakarta gak enak. Gw pun sampai nambah loh. Yah semua ikan yang gw makan memang selalu nambah karena emang favorit banget deh sama ikan. Jadi gw asli orang Ambon kan? hahaha.
After lunchie lanjut lagi naik ke daerah Bogor berkenalan dengan saudara-saudara yang lain. Jaraknya tidak terlalu jauh, bisa dengan berjalan kaki namun disarankan untuk memakai payung karena cuaca dan udaranya cukup panas. Bisa gosyong ya sis. Lanjut lagi jalan-jalan ke Tihuwa tempat bacuci pakaian ibu-ibu. Hari itu gw di-full service haha. Jalan-jalan juga ke Benteng Duurstede di Saparua dan Booi tempat tinggal sepupu bokap dengan mengendarai motor.
Singkat cerita malam pun tiba. Semua tertidur pulas. Sejujurnya ku tak bisa bangun subuh namun dikarenakan masih harus mampir ke rumah saudara satu lagi yang dimana kelupaan maka pagi-pagi sekali harus mengunjunginya sebelum naik kapal pertama.
At the end of my story. I just wanna say thank you (again) to my om Mon, tante Mada, tante Da, tante Lin and all of my family member in Haria, Porto, Bogor, Booi, etc. I was very happy.
--- next story is coming soon ---
No comments:
Post a Comment