Wednesday, 28 August 2019

Pulang Kampung (4)

Wahhhh.. ternyata besok berarti dua tahun kemudian ya hahaha. Hey, I'm back!

Mari kita lanjutkan yang belum selesai. Begini kisahnya...

Setelah tiba di Kakatua Resort kita langsung makan siang nasi padang yang tidak padang hehe. Porsi nasi tetap poooolll tapi dari segi rasa ya B aja. Tak apa ya yang penting perut terisi untuk berenang sore. Fyi, di sini sinyal hilang timbul mau pakai provider apa pun. Mungkin lebih tepatnya kita simpulkan saja dengan "no signal" karena memang sesulit itu mendapatkan sinyal tapi lebih baik ya supaya NGOBROL jangan main handphone terus ehehe.

Gw mau deskripsiin dulu bagaimanakah rupa dari penginapan kamar laut yang kita sewa. Sebenarnya bentuk bangunannya dari luar sama seperti Ora Beach Resort tapi tidak terlalu banyak rumah, hanya ada dua rumah saat itu. Turun dari perahu kita naik jembatan untuk menuju rumah laut. Tiap rumah terdiri dari satu tempat tidur size king, satu kamar mandi, dan balkon kecil dengan kursi dan meja terbuat dari kayu-kayu pohon yang masih terlihat jelas bentuk abstraknya. Karena jumlah kita yang banyak jadi kita extra bed. Buat kalian yang mau menginap di rumah laut sebaiknya bawa baju hangat karena dingin banget. Extra bed di lantai dan berasa banget dinginnya. Saat itu gw sama sekali gak bawa baju hangat cuma celana tidur panjang. Sepanjang malam kedinginan sampai bangun pagi esoknya.

Selesailah makan siang dan lanjutlah kita naik perahu menuju Ora Beach Resort untuk berenang di sana. Punya nyali besar? nah, silakan terjun bebas dari jembatan ke laut yang kedalamannya lebih dari 5 meter. Kak Ardi tanpa pikir panjang langsung terjun, byaaarrrr... emang dasarnya anak laut kali ya jadi sangat berani. Oh iya, waktu lagi berenang kasian kak Angga pergelangan kakinya kena bulu babi. Sudah coba untuk dibersihkan tapi masih terus ada dan itu banyak hingga akhirnya menjelang sore kak Angga dan kak Novia dibawa ke desa Saleman lagi untuk diobati oleh mantri karena di sekitar sana tidak ada puskesmas atau klinik.

Cuaca di Ora bisa dibilang tidak menentu. Sebentar mendung, sebentar gerimis, sebentar terang tapi sinar matahari juga tidak terlalu terik jadi mau sunset-an gak kelihatan apa-apa. Berenang di Ora tidak terlalu lama, lanjut lagi basah-basahan di Air Belanda. Lokasinya tidak jauh dari penginapan dan dikelilingi hutan bahkan untuk mencapai tempat ini kita bisa berjalan kaki (bila dari penginapan ya). Ada keunikan tersendiri tentang Air Belanda ini. Penasaran? Jadi, ketika turun dari perahu dan kaki menyentuh air pertama kali dekat perahu ada sensasi air hangat tapi bila kamu berjalan mengikuti air mengalir maka ada suhu berbeda yang kamu rasakan. Yessss, airnya dingin seperti air di puncak dan jernih. Kamu juga bisa masuk sampai ke tengah hutan tapi jangan lupa balik ya hehe.

Air yang mengalir di Air Belanda keluar dari tebing batu yang secara perlahan membentuk aliran sungai yang mengalir ke laut sembari membelah hutan kecil. Sejarah nama Mata Air Belanda berawal ketika Belanda menjajah Indonesia. Mereka membuka beberapa pos di Pulau Seram. Setiap Sabtu dan Minggu, pasukan Belanda akan mampir ke tempat ini untuk mandi. Sebenarnya juga nama aslinya adalah Mata Air Hatu Lohun. Dalam bahasa setempat, Hatu artinya Batu sedangkan Lohun adalah Di Bawah jadi Mata Air Hatu Lohun adalah mata air yang keluar dari bawah batu. (dailyvoyagers.com)

Kira-kira begitulah ya asal muasal Mata Air Belanda yang melegenda. Jangan lupa mampir ke sini ya bila berlibur ke Ora! Tidak banyak aktivitas yang kita lakukan di hari pertama karena waktu tiba kita sudah terlalu siang. Dari Mata Air Belanda kita kembali ke penginapan dengan berjalan kaki sambil mengumpulkan beberapa keong/siput/kerang kecil yang entahlah untuk apa hahaha.

Bersih-bersih dan makan malam bersama dengan menu yang tak lain tak bukan adalah ikan bakar. Jangan tanya jenis ikannya apa karena sudah amat lupa cuma ingat rasanya yang gurih, nikmat, dan rasa tambah hahaha.

Sekian cerita di hari pertama. Penasaran cerita selanjutnya?

No comments:

Post a Comment