Wednesday, 4 January 2017

Story of Malang (Part 5)

Hey! Happy New Year 2017.

[Day 5 - February 27, 2016]

Hari ini kita akan main air lagi, yey! Tapi tentunya bukan ke pantai. Kita akan rafting di Kasembon. Sekaligus ini menjadi pengalaman pertama gw. Sebelum memutuskan untuk akhirnya rafting masuk list tujuan wisata, gw adalah orang pertama yang mengatakan "tidak" karena menurut gw ini uji nyali, kita tidak melihat kedalaman sungai (warna airnya cokelat). Perjalanan ke Kasembon memakan waktu cukup panjang dan lama sekitar 2 jam dengan jarak tempuh lebih kurang 120-an km (pergi-pulang) dan kita naik motor. Prok prok. Pantat rasanya sudah panas dan sudah berganti beribu-ribu gaya. Di tengah jalan Fena yang saat itu boncengan dengan Fida terhenti. Check and re-check ternyata Fena mengeluh sakit perut serasa mau datang bulan (kayak bahasa berita ya hahaha), alhasil kita menepi di pinggir jalan yang ada warungnya. Kita mampir dan Fena numpang ke kamar mandi untuk pakai softex. Ternyata sampai Kasembon dan bahkan hingga pulang dia tidak datang bulan. Kita-kita mikirnya "mungkin karena kelamaan duduk dengan posisi yang sama jadi sakit perut dan pinggang". Di saat kita hendak melanjutkan perjalanan tiba-tiba berhenti lagi. Ternyata kita ditungguin sama mas-mas Kasembon. Nah, sebelumnya kita memang janjian karena takut kesasar dan kebetulan dia juga berangkat dari daerah Batu/Malang gitu deh tapi gw tidak check hp lagi makanya kita tidak tahu siapa orang itu. Namun, saat dia jelasin siapa dia baru kita ngeh dan buka handphone hehehe. Sampailah kita di Kasembon Rafting yeay! Tapi gw deg-deg-an banget hahaha. By the way, dresscode hari ini garis-garis. Waktu difoto kita serasa tahanan rutan bambu.

Waktu tiba kita dikasih welcome drink, kalau tidak salah teh botol. Kita pun langsung berganti pakaian dan siap beraksi. Selesai ganti pakaian, kita menuju ke tempat dayung, pelampung, dan topi pengaman. Jantung semakin berdebar-debar antara turun gak turun gak hmm. Guide pun mengarahkan kita ke sungainya. Mereka menjelaskan tata cara rafting yang benar (yang benar loh yaa) mulai dari cara mendayung sampai mengontrol diri masing-masing saat ada boom (turunan curam). Satu boat diisi maksimal 5 orang karena kita ber-13 jadi ada boat yang isinya 5 orang dan itu boat gw yang terdiri Ricky, Fena, Lucy, dan Sergie. Yuk, baca doa! hahaha. Guide boat kita memperkenalkan dirinya dengan hi five ke kita ber5 dan menyebut namanya "Mi'ing" oke fine. Gw yang tadinya pegang dayung akhirnya harus mengembalikan pada mas-mas yang ada disitu. Gw duduk di bagian tengah dan tidak mendayung. Enak juga sih, menang banyak :D Fena dan Lucy bagian depan, gw tengah, dan di belakang Sergie dan Ricky, diakhiri paling belakang mas Mi'ing.

Gw tidak berbohong, gw benar-benar dag dig dug serrrr pas udah turun ke boatnya huaaahh. Mas Mi'ing memberi tahu secara jelas kalau ada boom harus teriak dan posisinya yang benar supaya tidak terpental. Arusnya cukup deras. Baru beberapa meter kayuh di depan kita sudah ada boom. Well, gw cuma bisa merem dan teriak. Pas buka mata Fena udah gak ada hahaha. Dia terpental hahaha. Antara ingin ketawa dan panik. Eh tiba-tiba kepalanya muncul dan dia langsung naik ke boat lagi. Si mas Mi'ing agak marah dikit. Gw ketar ketir (tetepppp sampe berakhirnya rafting haha). Mas Mi'ng pun akhirnya harus menjelaskan lagi kalau ada boom posisinya seperti apa dan puji Tuhan boom berikutnya sudah lebih baik. Di tengah perjalanan kita berhenti, menepi ke kanan sambil makan pisang goreng dan minum teh hangat. Oh iya, waktu mulai rafting hujan loh. Rintik-rintik deras dikit. Jadi makin gimana gitu yaaaaaaaaaaaaaaaa.

Tak lupa Faldi tetap membawa Yi Cam nya supaya kita tetap bisa foto-foto. Setelah puas icip-icip snack kita lanjut kayuh lagi. Di depan kita langsung ada boom berikutnya seperti biasa gw tutup mata dan sambil teriak penuh ketakutan hahaha. I wanna tell you something that our boat is super balaaaa, so here is the story. Entah pada boom ke berapa dudukan gw kempes. Dalam posisi tetap berjalan akhirnya mas Mi'ing meniupnya dengan cepat, huh-hah-huh. Oh iya, jempol kaki kanan gw juga tiba-tiba berdarah tanpa sebab, nampaknya karena terlalu dalam menyelipkan kaki di dudukan Fena dan Lucy (itu prosedur kalau rafting). Lanjut~ lagi, lagi saat sedang asik mengayuh, boat kita tersangkut di bebatuan sebelah kiri. Mau tidak mau kita kita harus turun, mas Mi'ing langsung mengeluarkannya dari sangkutan batu. Kita semua naik dan kembali mengayuh. Baru satu menit mengayuh ada lagi insiden (nyaris insiden). Ricky tidak benar-benar memperhatikan jalan di depan akhirnya boat tiba-tiba menepi ke kanan, dan Ricky mukanya nyaris tabrak batang pohon. Mas Mi'ing langsung marah lagi hahaha he said, "perhatiin depan makanya!" Ricky cuma bisa ngejawab "Saya juga gak tau, gak keliatan". Ya, secara saat rafting dia gak pakai kacamata. Dannnnn itulah kisah boat bala hahaha.

Dan tibalah di boom terakhir, dimana perasaan senang hahaha. Boom nya lebih biasa (gaya luuu). Selesai rafting kita langsung keluar dari sungai dan naik ke atas, keluar ke jalan raya sambil menunggu datangnya mobil pick-up untuk mengantar kami kembali ke tempat awal. Saat tiba kita segera ambil peralatan mandi, dilanjut lagi dengan late lunch. Recommended banget deh guys tempat ini! Untuk harga gw lupa karena yang ngurusin Karina tapi murah kok, 100-an gitu.

Saat akan meninggalkan Kasembon, rintik-rintik hujan kembali turun. Super hati-hati sekali selama perjalanan karena jalanannya kayak puncak tapi lebih extreme sedikit. Sudah hari ke-5 dan besok waktunya pulangggggg jadi kita menyempatkan diri untuk mampir ke Goedang Oleh-Oleh di Jalan Simpang Tenaga 2 no.12. Disini kalian bisa belanja apa aja dari makanan sampai aksesoris dengan harga terjangkau. Yang gak boleh ketinggalan dibeli salah satunya ialah keripik buah. Enaaakk banget, recommended banget sih yang rasa apel ya. Manis-manis gimana gitu. Cussss balik ke homestay. Fyi, di hari ke-6 ini kita pindah homestay karena si ibu-ibu homestay sebelumnya gajel (gak jelas) katanya dia lupa kalau di tanggal 27 Februari ada yang mau nempatin, sudah booking dari jauh hari tapi tenang kita pindahnya gak jauh cuma beda berapa rumah. Bisa dibilang ini bukan homestay sih karena ini banyak kamar dan orang luar pun bisa masuk. Syukurlah si ibu itu bertanggungjawab. Terimakasih ya bu. Sesampainya di penginapan kita hanya menaruh belanjaan dan langsung jalan lagi cari makan. Kita browsing juga tempat makan yang enak tapi ternyata saat kita sampai sana tutup. Sedih sekali. Bakso gitu sih. Akhirnya beralih ke tempat makan sekitar. Lupa namanya apa intinya ada nama "Zaman" nya. Dannnn kalian harus tahu pegawainya nyebelin bangeeeet. Pesanan kita baru datang 45 menit kemudian. Kondisinya perut kita sudah keroncongan, mereka pun tidak ada basa basi minta maaf. Sampai-sampai Faldi semakin geram (baru lihat dan seraaammm) dan manggil mbak-mbaknya "Mbak ini masih lama? saya nih udah lapar. Emang benar ya lamanya dua zaman!!". Si mbak hanya bisa menjawab tapi dalam hati juga kesal "iya mas sabar ya karena koki nya cuma satu". Faldi nyerocos aja terus sampai akhirnya dia meminta mbaknya untuk membatalkan pesanannya. Cusss dia keluar dari rumah makan dan cari makan sendiri. Saat kita semua sudah kelar makan dia pun baru datang lagi.

Balik ke rumah, kita langsung jemur pakaian basah di tralis, di kursi, dan dimana saja karena tidak ada waktu lagi untuk mencuci dan berharap esok akan kering. Kita pun duduk ramai-ramai di ruang tamu lantai 2 (kamar kita semua di lantai 2). Kita evaluasiiiiiii hahaha. Mungkin ini hal yang aneh untuk kalian, "ngapain sih evaluasi segala? kan ini senang-senang". Ya, whatever. Kebiasaan ini sudah kita lakukan sejak tiga tahun lalu di liburan pertama kita ke Jogja (kecuali Bali, di hari terakhir sudah pada tepar). Semuanya lah disitu dibuka-buka. Seperti biasa juga gw yang memimpin evaluasi. Satu per satu gw tanyain ada gak yang mau disampaikan. Ada juga loh yang bapeeeerrrr hahaha. Biasalah~ tapi untungnya sekarang sudah biasa lagi anak-anaknya. Menurut gw yang lucu adalah pernyataan dari Leo. He said, "Gw makasih sama Faldi karena udah ngeboncengin gw selama liburan ini". Fyi, Leo gak bisa mengendarai motor. Gw tidak akan menuliskan secara lengkap isi evaluasi itu apa karena sangat private dan cukup kita ber11 saja yang tahu (Ricky lagi unmood seperti biasa dan Sergie yang lagi jalan entah kemana). Intinya tiap perjalanan dengan jumlah orang yang tidak banyak itu tidaklah mudah, semua orang pasti punya ego masing-masing. Sekarang, tinggal bagaimana lo mau mengontrolnya dan mengondisikannya. Ingat! kita bukan anak kecil lagi :)

****







Thanks for read,
Sharo

No comments:

Post a Comment